Profil Desa

GAMBARAN UMUM DESA KOTA KAPUR

 

  1. Sejarah Desa

Sesungguhnya Kota Kapur sudah pernah terkenal pada abad ketujuh masehi. Prasasti Kota Kapur (686 M) yang ditemukan Van der Meulen pada bulan Desember 1892, menunjukkan betapa pentingnya wilayah ini kala itu. Dapunta Hyang, penguasa Kadatuan Sriwijaya, menempatkan prasasti persumpahan di sana. Tujuannya agar menjadi peringatan pada setiap orang di wilayah Sriwijaya (termasuk Kota Kapur) yang berangan-angan untuk memberontak terhadap kekuasaan Dapunta Hyang. Seandainya Kota Kapur dulu hanya sekecil dan sesederhana sekarang, tidak mungkin Dapunta Hyang mencemaskan kekuatan negeri di sungai Menduk ini.

Desa kecil dengan nama awal “Kota” ini. Dulu seorang warga masyarakat yang pesimis mengatakan “Kota Kapur tidak akan pernah makmur. Desa ini dikutuk penguasa zaman dulu. Masyarakat Kota Kapur hanya dapat hidup dari ‘cari sehari makan sehari’ alias hidup pas-pasan.”(isi prasasti kota kapur)

Kota Kapur menyimpan harta karun yang berlimpah. Perhatian kita yang kurang memadai terhadap sejarahlah yang menenggelamkan Kota Kapur. Selama ini pemahaman terhadap sejarah sangat membingungkan. Peristiwa sejarah yang terjadi di wilayah lain, dihormati dan dihargai dengan membangun monumen segala. Sedangkan peninggalan sejarah yang bertaraf internasional di negeri sendiri, seperti prasasti Kota Kapur, diabaikan.

Keberadaan SITUS KOTA KAPUR menjadikanDesa Kota Kapur dikenal sampai kepelosok dunia. Sayang jika potensi lain yang terpendam di Desa Kota Kapur ini tidak terangkat. Situs Kota Kapur sangat prospektif untuk dikembangkan sebagai objek pariwisata, baik pariwisata budaya atau purbakala maupun pariwisata alam dan agro.

GAMBARAN UMUM DESA KOTA KAPUR

 

  1. Sejarah Desa

Sesungguhnya Kota Kapur sudah pernah terkenal pada abad ketujuh masehi. Prasasti Kota Kapur (686 M) yang ditemukan Van der Meulen pada bulan Desember 1892, menunjukkan betapa pentingnya wilayah ini kala itu. Dapunta Hyang, penguasa Kadatuan Sriwijaya, menempatkan prasasti persumpahan di sana. Tujuannya agar menjadi peringatan pada setiap orang di wilayah Sriwijaya (termasuk Kota Kapur) yang berangan-angan untuk memberontak terhadap kekuasaan Dapunta Hyang. Seandainya Kota Kapur dulu hanya sekecil dan sesederhana sekarang, tidak mungkin Dapunta Hyang mencemaskan kekuatan negeri di sungai Menduk ini.

Desa kecil dengan nama awal “Kota” ini. Dulu seorang warga masyarakat yang pesimis mengatakan “Kota Kapur tidak akan pernah makmur. Desa ini dikutuk penguasa zaman dulu. Masyarakat Kota Kapur hanya dapat hidup dari ‘cari sehari makan sehari’ alias hidup pas-pasan.”(isi prasasti kota kapur)

Kota Kapur menyimpan harta karun yang berlimpah. Perhatian kita yang kurang memadai terhadap sejarahlah yang menenggelamkan Kota Kapur. Selama ini pemahaman terhadap sejarah sangat membingungkan. Peristiwa sejarah yang terjadi di wilayah lain, dihormati dan dihargai dengan membangun monumen segala. Sedangkan peninggalan sejarah yang bertaraf internasional di negeri sendiri, seperti prasasti Kota Kapur, diabaikan.

Keberadaan SITUS KOTA KAPUR menjadikanDesa Kota Kapur dikenal sampai kepelosok dunia. Sayang jika potensi lain yang terpendam di Desa Kota Kapur ini tidak terangkat. Situs Kota Kapur sangat prospektif untuk dikembangkan sebagai objek pariwisata, baik pariwisata budaya atau purbakala maupun pariwisata alam dan agro.

KOTA KAPUR, menggali kepingan sejarah yang lama terkubur

 

Dinamakan Kota Kapur, karna daerah ini dulunya kaya akan pohon Kapur.
Kayu kapur diyakini sangat kuat namun ringan. Sifatnya yang mudah dibentuk dan liat menjadikannya pilihan terbaik untuk dibuat perahu, satu alat transportasi penting dimasa itu.

Bicara sejarah Bangka, tak lengkap rasanya tanpa membahas Kota Kapur. Karena ditempat ini lah Prasasti yang terkenal itu ditemukan.

Dulunya, Kota Kapur dikelilingi Benteng. Dengan ketinggian hingga 3 meter, benteng ini memanjang dari utara hingga selatan sejauh 2.500 meter. Ditempat yg mempunyai tingkat kecuraman yg dalam, benteng ini berlapis dua. Namun yang agak aneh untuk ukuran saat ini adalah, benteng tersebut berada diluar pemukiman, menghadap ke darat. Artinya pemukiman Kota Kapur kala itu berada antara Laut dan Benteng. Sementara pada umumnya, benteng dibangun menghadap laut untuk menghalau para perompak atau serangan yang datang dari arah laut, kemudian baru dibelakang atau didalamnya dibangun pemukiman. Para peneliti memperkirakan yang menjadi musuh atau yang ditakuti penduduk Kota Kapur adalah orang daratan yang datang dari arah Penagan .

 

 

Benteng Utara Kota Kapur

Informasi Terkait

PPID | Tersedia Setiap Saat
Updated: 05/02/2018 | [totalcount]
PPID | Tersedia Setiap Saat
Updated: 21/07/2018 | [totalcount]
PPID | Tersedia Setiap Saat
Updated: 06/02/2018 | [totalcount]
PPID | Tersedia Setiap Saat
Updated: 07/04/2018 | [totalcount]
PPID | Tersedia Setiap Saat
Updated: 13/02/2018 | [totalcount]