Mengemas Situs Kota Kapur sebagai Objek Wisata Purbakala

Secara geografis, situs Kota Kapur merupakan dataran yang menghadap langsung ke selat Bangka di desa Kota Kapur Kecamatan Mendo Barat Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Situs itu dikelilingi oleh hutan rawa pantai di sebelah barat, utara, dan timurnya.

Pada situs Kota Kapur terdapat "benteng tanah" sepanjang kurang lebih satu setengah kilometer. Stratigrafi/pelapisan benteng tanah ini tebalnya lebih dari sepuluh meter dengan tinggi dua setengah meter. Di bawah tanah terdapat berbagai benda arkeologis, seperti sisa struktur bangunan candi, keramik Cina abad 9 -- 12, patung Wisnu ber-kuluk (mitred Visnu) abad 5 -- 7 bernilai sejarah yang belum terkuak.

Di lokasi ini Prasasti Kota Kapur ditemukan oleh J. K. van der Meulen, seorang pegawai pamong praja Sungai Selan, pada bulan Desember 1892 di Sungai Mendu. Penemuan ini mengilhami arkeolog dunia, George Coedes, untuk "menemukan" Sriwijaya. Selama ini perhatian orang terhadap prasasti Kota Kapur hanya dalam rangka pengungkapan mistri Sriwijaya saja. Belakangan diketahui bahwa di lokasi ini diduga pernah ada kerajaan Mo-ho-hsin.

Prasasti Kota Kapur berukuran tinggi 1,77 meter itu dengan tulisan Wenggi, terdiri dari 10 baris berisi 240 kata Melayu Kuno. Prof.Hendrik Kern menterjemah dan membahas prasasti itu pada tahun 1913. Dari kelima prasasti persumpahan (Kota Kapur, Karang Berahi, Palas Pasemah, Bawang, dan Telaga Batu) yang ditemukan sampai saat ini, hanya prasasti Kota Kapur yang bertarih, yaitu tahun 608 Saka (686 M). Isi prasasti-prasasti tersebut hampir sama, kecuali baris terakhir (bagian akhir baris 9 dan baris 10) prasasti Kota Kapur, tidak ditemukan pada prasasti lainnya.

Prasasti yang kini berdiri tegak di salah satu sudut ruangan koleksi Museum Gajah Jakarta itu terjemahan sebagai berikut:

Seorang pembesar yang gagah berani, Kandra Kayet, di medan pertempuran. Ia bergumul dengan Tandrun Luah dan berhasil membunuh Tandrun Luah. Tandrun Luah mati terbunuh di medan pertempuran. Tetapi bagaimana nasib Kayet yang berhasil membunuh itu? Jua Kayet berhasil ditumpas. Ingatlah akan kemenangan itu! Ia enggan tunduk kepadaku. Ingatlah akan kemenangan itu!

Kamu sekalian dewata yang berkuasa dan sedang berkumpul menjaga kerajaan Sriwijaya! Dan kau, Tandrun Luah, dan para dewata yang disebut pada pembukaan seluruh persumpahan ini! Jika pada saat mana pun di seluruh kerajaan ini ada orang yang berkhianat, bersekutu dengan pengkhianat, menegur pengkhianat atau ditegur oleh pengkhianat, sepaham dengan pengkhianat, tidak mau tunduk dan tidak mau berbakti, tidak setia kepadaku dan kepada mereka yang kuserahi kekuasaan datu, orang yang berbuat demikian itu akan termakan sumpah.

Kepada mereka, akan segera dikirim tentara atas perintah Sriwijaya. Mereka sesanak keluarganya akan ditumpas! Dan semuanya yang berbuat jahat, menipu orang, membuat sakit, membuat gila, melakukan tenung, menggunakan bisa, racun, tuba, serambat, pekasih, pelet dan yang serupa itu, mudah-mudahan tidak berhasil. Dosa perbuatan yang jahat untuk merusak batu ini hendaklah segera terbunuh oleh sumpah, segera dipukul. Mereka yang membahayakan, yang mendurhaka, yang tidak setia kepadaku dan kepada yang kuserahi kekuasaan datu, mereka yang berbuat demikian itu, mudah-mudahan dibunuh oleh sumpah ini.

Tetapi kebalikannya mereka yang berbakti kepadaku dan kepada mereka yang kuserahi kekuasaan datu, hendaknya diberkati segala perbuatannya dan sanak keluarganya, berbahagia, sehat, sepi bencana dan berlimpah-limpah rezeki segenap penduduk dusunnya!  

Tahun Saka 608 hari pertama bulan terang bulan Waisaka, itulah waktunya sumpah ini dipahat. Pada waktu itu, tentara Sriwijaya berangkat memerangi tanah Jawa karena tidak mau tunduk kepada Sriwijaya.

(Prof. Dr. Slamet Muljana, Sriwijaya, LKiSYogyakarta, Yogyakarta, 2006, hal.160).

Pengembangan Produk Pariwisata

Situs Kota Kapur sangat prospektif untuk dikembangkan sebagai objek pariwisata, baik pariwisata  budaya atau purbakala maupun pariwisata alam dan agro karena situs ini sangat penting untuk kajian arkeologis dan sejarah kerajaan Sriwijaya.

Keunikannya berupa benteng tanah sepanjang satu setengah kilometer lebih, candi yang sangat tua, kolong timah yang luas dikelilingi perbukitan, maupun sungai yang lepas ke Selat Bangka, hutan bakau yang asri serta udara pantai yang segar di sela-sela pohon durian raksasa merupakan daya tarik yang amat kuat untuk menyedot wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Pengembangan Aksesibilitas

Untuk menuju situs Kota Kapur dengan alat transportasi darat dapat ditempuh melalui kota Pangkalpinang, melintasi desa Terak, Rukam, dan Penagan. Kondisi jalannya relatif bagus. Jika lokasi ini akan dikembangkan sebagai objek pariwisata, perlu ditingkatkan pembangunan jalan dan jembatan, antara lain:

  • Rehabilitasi dan pelebaran jalan yang sudah ada (dari arah Pangkalpinang);
  • Peningkatan jalan ke arah Petaling (ibu kota  Kecamatan Mendo Barat) melalui desa Air Pandan;
  • Pembangunan jembatan permanen untuk melintasi sungai Menduk yang membelah desa Kota Kapur dan desa Air Pandan.

Penataan Ruang

Kawasan situs Kota Kapur yang luasnya lebih kurang 210 ha itu perlu ditata secermat mungkin supaya pengembangannya tidak menyimpang dari kerangka arkeologis, kesejarahan dan keseimbangan ekosistem.

Pada Peta Situasi Situs Kota Kapur yang dibuat Tim Peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional tahun 1994, digambarkan enam sektor yang mengandung data arkeologi dengan karakteristik berbeda.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat direncanakan penataan ruang untuk pembangunan objek-objek pariwisata sejarah atau purbakala, meliputi:

a. Taman Purbakala Kerajaan Kota Kapur (Mo-ho-hsin), yang terdiri dari misalnya:

  • Rekonstruksi bagunan candi;
  • Gedung Museum, untuk menyimpan koleksi arkeologi;
  • Gedung Prasasti, untuk menyimpan replika Prasasti Kota Kapur;
  • Gedung Serba Guna, untuk keperluan pameran, pergelaran kesenian, seminar, dan sebagainya;
  • Kompleks permukiman kuno;

b. Taman Kelekak,berisi tanaman buah-buahan lokal, seperti durian, cempedak, duku, puren, sentol, dan sebagainya.

c. Taman hutan bakau;

 

sungai-mendo-59f6526ac252fa438b019972.jpg

 

Mengingat dana pemerintah dan pemerintah daerah untuk pembangunan bidang kebudayaan sangat terbatas, pelaksanaan program ini dapat dilakukan secara bertahap, yaitu:

1.   Tahap pertama, selama lima tahun pertama, dengan kegiatan:

  • Pemerintah Daerah menetapkan lokasi situs Kota Kapur sebagai tapak kawasan pariwisata, pembebasan lahan, dan melindunginya dari gangguan manusia yang tidak bertanggung jawab dengan membangun pagar keliling;
  • Melanjutkan penelitian/penggalian di lokasi-lokasi yang diduga menyimpan informasi arkeologis;
  • Penyusunan tata ruang kawasan wisata budaya;
  • Membangun objek pariwisata sejarah/purbakala tahap awal berupa pembuatan replika prasasti Kota Kapur dan bangunan tempat penyimpanannya.

2. Tahap kedua, dimulai pada kurun waktu lima tahun kedua, dengan kegiatan:

  • Pemugaran sisa bangunan candi dan/atau bangunan lainnya yang mungkin ditemukan dalam penelitian di kemudian hari. Kegiatan ini mungkin berlangsung sangat lama, lebih dari sepuluh tahun.
  • Pembangunan museum.

 

candi1-kkp-59f652baed4ed633d4652c12.jpg

 

3. Tahap ketiga, selama lima tahun ketiga, dengan kegiatan meminta pengembalian benda-benda arkeologis yang disimpan di Museum Nasional untuk disimpan di lokasi situs.

4. Tahap keempat, pada masa lima tahun keempat, dengan kegiatan menata kompleks Kota Kapur menjadi sebuah objek pariwisata yang bernilai tinggi bagi pengembangan ilmu pengetahuan, sejarah, kebudayaan, dan hiburan.

5. Tahap kelima, pada masa lima tahun kelima, pembangunan prasarana penunjang, seperti gedung serba guna dan kompleks permukiman kuno, dan lain-lain.

Penulis: 
Surtam A Amin
Sumber: 
Kompasiana
Tags: 
Artikel Desa