Ironi Kota Kapur, Penguak Tabir Kerajaan Sriwijaya yang Kini Dirambah Penambang.

BANGKAPOS.COM--Gagal lagi. Kata itu selalu melekat ketika berhadapan dengan Situs Kota Kapur.

Dari pembelian lahan bekas candi , pinjam pakai lahan Hutan Produksi sampai  pembangunan museum Kota Kapur.

 

Deretan prestasi yang tertunda makin panjang dan hati ini makin meradang setelah membaca berita anak-anak ikut merambah timah di Situs Kota Kapur. Gagal lagi.

Baca: Penambang Rambah Kawasan Situs Kota Kapur, Anak-Anak Ikut Melimbang dan Ditemukan Gerabah Kuno

Kening makin berkerut jika ingat nasib “surat tanah” lahan pembangunan taman prasasti yang ikut terkatung-katung.

Festival Kotakapur yang dianggap sukses pun belum mampu merubah paradigma masyarakat pentingnya merawat warisan budaya.

Jika dahulu batu-batu candi dijadikan pondasi rumah karena ketidaktauan dan minimnya informasi  di masa lalu, kini setiap jengkal tanah di dalam Situs Kotakapur terancam hilang demi  meraup rupiah si hitam yang menggiurkan.

Dan itu terjadi setelah 7 tahun UU Cagar Budaya disahkan pada tahun 2010 dan informasi begitu mudah diakses. 

Mirisnya, anak-anak usia sekolah terlibat langsung proses pengrusakan warisan nenek moyangnya. Itu hanya terjadi di Pulau Bangka.  Gagal lagi.

Situs Kotakapur memang sangat tua, jauh lebih tua daripada Candi Prambanan dan Candi Borobudur.

Namun, nasibnya seolah-olah benar-benar terkutuk seperti tergurat dalam Prasasti Kotakapur. Terlantar dan terasing di muara Sungai Menduk.

Bagaikan habis manis sepah dibuang. Jangan bayangkan datang ke sana seperti Candi Borobudur yang makin molek dan bersinar.

Atau Candi Prambanan yang makin seksi dan menarik. Atau Situs Muara Jambi yang aura keagungannya bersinar kembali setelah seribu tahun terbenam. 

Sekali-kali datanglah ke Situs Kotakapur, niscaya akan disambut beberapa gundukan tanah, bentangan tanah tinggi memanjang dan hamparan perkebunan masyarakat.

Ada Duren, Karet dan Sahang. Cukup 5 menit selesai. Setelah itu terserah Anda. 

Kotakapur itu cerita lama yang sudah terpendam. Sulit mengangkat kembali. Jika bisa pun kebanyakan tidak peduli.

Sudahlah. Kotakapur hanya kenangan kejayaan kerajaan maritim dari awal masehi sampai abad ke-13. Seribu tiga ratus tahun!  Dermaga kuno (satu-satunya yang masih “utuh” di Indonesia), kayu kapal teknologi ikat (lihatlah relief kapal di Candi Borobudur), tiga candi Hindu (berkembang saat dikuasai  kerajaan Budha), Prasasti Kotakapur (penyibak tabir sebuah kerajaan besar ; Sriwijaya),  Prasasti Kotakapur II (keberhasilan pahlawan dari Pulau Bangka), Prasasti D 126 (perjalanan suci / siddhiyātrā), arca (Wisnu dan Durgamahisasuramardini), benteng tanah sepanjang 350 dan 1200 meter (menghadap daratan, bukan ke laut) dan temuan hiasan emas.

Semuanya membisu. Butuh kepedulian kita untuk menceritakan keagungan di masa lalu dan menghadirkan kembali di zaman now, dengan semangat 72 tahun Republik Indonesia. Kerja, kerja dan kerja. 

Ada lahan seluas 132 hektar, pohon Duren yang menggoda cita rasa, rimbunnya pohon Sahang yang termasyur seantero negeri, jajaran pohon Karet sumber ekonomi masyarakat, pesona Rasau-Nipah-Bakau sepanjang sungai Menduk, potensi ikan (laut dan sungai), udang dan kepiting,  cantiknya gugusan pulau Medang-Antu, nyanyian burung, kera yang menggemaskan dan tarian Pesut di Selat Bangka  begitu mempesona.

Sumber: 
Bangka Pos
Penulis: 
Herru W
Fotografer: 
Iwan Satriawan
Tags: 
Berita Desa